Langsung ke konten utama

Mengubur Sepi

Dalam tandusan hati,
Iklim bergantung pada siklus naik turun gelombang nadi,
Matahari kalbu, gelap tak berlangit,
Suhu anginnya, tertunduk kelelahan. 

Sementara, drama cinta dan benci,
Benci mengalahkan cinta,
Cinta tak mau dibenamkan benci,
Rindu-rindu tak terkelola, semua orang dibuat saling sambar nyawa, 

O amarah kemerah-apian, 

Pedang dipatah-patah pada leher,
Pisau ditusuk-tusuk tajamnya menghujam pada jantung,
Jantung mati-matian ingin layak berdetak,
Disitu kasih sayang tersungkur dalam sangkar pertikaian. 

Tuhan,
Jenuhlah atas jalan berbecek yang berairkan darah dan hujaman airmata,
Mata kaki menjadi buta, petunjuk pada gemintang, tertutup keangkuhan Rahwana-rahwana.

Tuhan,
Kau, dibawa ke segala-segala tempat judi,
Bahkan, ucapan suciMu menjadi doa senggama di lokalisasi, 
Ayat-ayatMu jadi batu akik dalam lepas pisah antara Jin dan mafia-mafia perdukunan pada sesajian pohon-pohon, gunung-gunung, kuburan bahkan pepantaian. 

O berhala-berhala penuh kutukan buta. 

Ini potretan di masa kelaliman,
Kursi-kursi pejabat laku manis oleh proyek-proyek nabi palsu,
Yang datang bergaya pahlawan di atas panggung rakyat,
Rakyat dibuat bodoh dengan uang serupiah,
Disaat ekonomi bangsa kempis dan mengemis. 

O Tuhan,
Ini bolak-balik,
Arus mudik baik-buruk,
Saling menikung dalam lintasan, 

Mungkin hanya kali-kali untung,
Berpusat pada perut dan sekitarnya,
Nafsu merajai, kacau balaulah,
Tanah bergoncang, bumi terbelah,
Langit mengamuk, air laut menggulingkan istana-istana,
Tapi, jua bahasa sadar belum diterjemahkan dalam pertanyaan,
Mengapa Tuhan berikan peringatan itu? 

Tuhan,
Dalam mukjizatMu,
Kali ini, beta butuh keranda tanpa jendela,
Agar bisa bersemedi, melatih kanuragan olah sukma,
Biar hidup tak merana, dibuat mati sengsara oleh api yang sudah terlanjur membakar rumah-rumah,
Biar nafas tak perih seketika oleh air yang meniadakan diafragma,
Biar bulan menjatuhkan cahayanya pada laut,
Biar bintang tak membuang wajahnya dari bulan. 

Ambon, 13/05/2018. Pukul 00.57 WIT

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Aksi Nyata Para Pelindung Bumi

AI Kegiatan itu digagas oleh Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT), sebuah Unit Kegiatan Kemahasiswaan Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip Semarang. "Ini sarana untuk menumbuhkan semangat konservasi terhadap ekosistem mangrove kepada generasi muda," jelas Trialaksita Sari Priska, Menteri Sekretaris KeSEMaT. Aktivitas kepedulian terhadap lingkungan tersebut bermula dari keresahan mahasiswa Ilmu Kelautan Undip terhadap kerusakan ekosistem mangrove di Teluk Awur, Jepara yang menjadi tempat praktik dan penelitian mata kuliah mereka. Mereka tidak ingin hanya meresahkan sesuatu. Mereka ingin melakukan tindakan nyata. Menurut Dinuarca Endra Wasistha, Presiden KeSEMaT, aksi mereka selanjutnya berkembang dari hanya menanam mangrove hingga membuat kreasi yang menghasilkan uang melalui CV KeMANGI. Tidak hanya itu, mereka juga mendirikan Yayasan Ikatan Alumni KeSEMaT (IKAMaT) dan menggalang KeSEMaT Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) yang terseba...

Muncul Awan seperti Gelombang Tsunami Aceh, Ini Penjelasan BMKG

Gemini Ai Warganet ramai memperbincangkan video viral tentang awan berbentuk tsunami di atas Kota Meulaboh, Provinsi Aceh, Senin (10/8/2020). Akun Twitter @masawep atau Arief Arbianto yang menggunggah video tersebut menulis, “Mohon doanya agar Kota Meulaboh baik2 saja. Pemandangan awan pagi ini di atas kota Meulaboh, Aceh Barat.» Melihat fenomena alam yang viral ini, sebagian masyarakat bertanya-tanya apakah awan ini pertanda datangnya bencana alam. Menanggapi viralnya video fenomena awan tersebut, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini BMKG, Miming Saepudin, pun angkat bicara. Miming menuturkan bahwa memang benar fenomena awan berbentuk seperti tsunami di video tersebut merupakan fenomena yang relatif jarang terjadi. “Secara ilmiah, fenomena awan tersebut dinamakan dengan awan arcus,” kata Miming kepada Kompas.com, Senin (10/8/2020). Untuk diketahui, awan arcus adalah jenis awan rendah dan memiliki formasi pembentukan horizontal. Dijelaskan Miming, awa...

Merangkum Berdasarkan Gagasan Pokok

  Judul Buku: Aku Terbatas tapi Tanpa Batas Penulis: Joko Sulistya Judul Bab: Yulia Dwi Kustari, Juara I KIR Nasional Judul Subbab: 1. Dulu Aku Tomboi 2. Aku dan Kegiatanku 3. Aku Ingin Naik Pesawat 4. No Pain No Gain 5. Alhamdulillah, Aku Juara  Dari buku ini, gagasan utama setiap paragraf dapat disarikan sebagai berikut. Kisah Yulia kecil yang lebih senang bermain dengan teman laki-laki. Kegiatan Yulia di bangku SMP yang banyak dihabiskan dengan kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler. Yulia ingin merasakan naik pesawat seperti kakaknya yang sering bepergian ke tempat jauh. Ia berharap dapat lolos ke Lomba Penelitian Siswa Nasional di Jakarta. Yulia menyiapkan makalah penelitiannya untuk dikirimkan ke panitia lomba Yulia lolos lomba dan menjadi pemenang pertama Yulia tidak mengerti apa yang salah dengan menjadi tomboi. Ia hanya senang bermain dengan teman laki-laki dan mengikuti kakak laki-lakinya. Namun, ia selalu diingatkan orang tuanya agar berperilaku seb...