Langsung ke konten utama

Ketika Cinta Tumbuh di Waktu Sahur

Sering kali aktivitas sahur dalam ramadan dianggap sebagai rutinitas fisik. Makna umumnya yaitu perjuangan melawan kantuk demi sesuap nasi supaya tubuh kuat menjalani puasa. Tapi, bila kita menyelami lebih dalam, kita akan menemukan hakikat sahur adalah panggung bagi drama kemanusiaan yang paling halus. Di sanalah, di antara denting sendok yang beradu dengan piring porselen dan aroma uap nasi yang mengepul, cinta sering kali tumbuh tanpa suara.

gemini
Keheningan yang menyatukan dunia pada jam sahur adalah dunia berbeda. Jalanan sunyi, lampu-lampu tetangga padam, dan hanya ada suara sayup-sayup tadarus dari toa-toa suara masjid di lingkungan tempat tinggal. Dalam kesunyian ini, ego manusia biasanya sedang dalam titik terendah. Tidak ada topeng pekerjaan, tidak ada riasan wajah sempurna, dan tidak ada tuntutan sosial.

Pada momen itu, ketika dua jiwa yang halal bertemu di meja makan dalam kondisi "apa adanya"—mata yang masih berat, rambut sedikit berantakan, dan suara serak—tercipta sebuah keintiman organik. Alhasil, cinta tumbuh di waktu sahur tidak dibangun di atas kemewahan kencan makan malam, melainkan di atas kesediaan untuk saling menemani dalam kerapuhan pagi buta.

Makna lainnya adalah di saat ada pengorbanan kecil dalam sebuah keluarga yang tak tertulis dalam buku nonfiksi. Diantaranya Sang Ibu yang bangun dua jam lebih awal dari anggota keluarga lain untuk menyiapkan hidangan hangat. Tiba-tiba tertidur karena kelelahan, dan suaminya dengan lembut membangunkan istrinya agar tidak terlewat waktu subuh.  Ada pula anak-anak kecil belajar untuk berpuasa sampai datangnta buka, mereka menghargai jerih payah orang tua melalui kehangatan sayur tumis kacang panjang, ikan goreng komu serta sepiring sagu.

Sampai di sini, cinta bukan lagi sekadar kata sifat, melainkan kata kerja. Ia adalah tindakan konkret memastikan orang, yang kita sayangi memiliki bekal cukup guna menghadapi hari yang berat. Setiap sahur merupakan awal yang baru. Memulai hari dengan orang yang dicintai memberikan energi psikologis lebih besar daripada sekadar nutrisi makanan.

Peristiwa-peristiwa sahur ini memperkuat dimensi spiritual dan  ikatan emosional. Sahur bukan hanya tentang mengeyangkan perut, tetapi perihal mempersiapkan jiwa. Cinta tersebut cenderung memiliki landasan kokoh karena melibatkan Tuhan di dalamnya.

Ada keindahan tersendiri saat semua keluarga duduk bersama, lalu menutup makan sahur dengan doa. Di titik inilah, hubungan horizontal antarmanusia bersinggungan dengan hubungan vertikal kepada
Sang Pencipta. Cinta yang tumbuh di sini adalah cinta yang sadar akan kefanaan, namun berharap pada keabadian.

Peristiwa sahur juga menawarkan sensasi romantisme yang paling murni. Tidak ada musik orkestra atau lilin-lilin mahal. Bahkan dulu hanya bisa ditemani lampu pelita, disaat listrik masih jadi barang mahal. Musiknya adalah suara jangkrik atau kodok di ilalang.

Dalam sahur terjadi banyak percakapan ringan tentang mimpi yang akan dilalui. Atau bisa berupa candaan kecil tentang cerita batu badaong. Hal-hal sepele ini menjadi perekat hubungan luar biasa. Tentu, kita tidak butuh pembicaraan berat tentang politik atau karier. Kita hanya butuh kehadiran. Utuh.

Momen sahur, kita tidak pernah menemukan orang bertopeng dua. Sebab, rasa lelah membuat orang sulit untuk berpura-pura. Apa yang keluar dari mulut di waktu sahur biasanya adalah kejujuran.

Hal unik juga dialami oleh mereka yang terpisah jarak atau LDR-an. Video call atau kirim emoji di jam sahur menjadi bukti bahwa seseorang sedang memikirkan kita di waktu paling tenang. "Jangan lupa sahur," atau "Tadi masak apa?" adalah frase sederhana. Kalimat itu mengandung perhatian sangat deep. Bagi mereka yang sedang berjuang dalam jarak, sahur adalah jembatan untuk menghubungkan kerinduan sebelum matahari terbit.

Cinta yang tumbuh di sahur adalah cinta tenang, tidak meledak-ledak, tapi menetap lama layaknya embun membasahi bumi sebelum surya menanggapi. Sahur mengajarkan kita bahwa untuk mencintai, kita tidak perlu momen megah. Kita hanya perlu waktu tepat, keikhlasan melayani, dan keberanian  hadir sepenuhnya.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melasti dan kem (Bali) ke Kuta

Bersama rinduku walau kita jauh, kasih Suatu saat di Kuta Bali (Andre Hehanusa) Penggalan lagu mantan band Katara Singers tersebut sangat memukau. Semukau pesona yang ada di pantai Kutanya. Namun ada sesuatu yang membuat indah Bali selain pantainya, yaitu budaya dan adat istiadatnya. Masyarakat Bali sangat melekatkan budayanya dalam kehidupan sehari-hari.  Sejak turun dari pesawat, nuansa keBalian telah menyambut kita. Para porter bandara menyapa ramah dengan balutan pakaian safari berwarna merah dengan udeng kepalanya. Hal yang paling sakral yang saya dengar juga bahwa di Bali, tinggi gedung tidak boleh melebihi tingginya Pura. Bukan masalah mitos, bahkan jembatan penghubung Jawa-Bali tidak bisa disetujui lantaran karena hal tersebut. Khazanah yang sama, saya temukan di Kuta juga yaitu Melasti. Upacara pensucian diri ini sangat menarik simpati pengunjung termasuk saya. Itulah daya pikat Bali selain gadis-gadisnya yang anggun layaknya gadis solo.  Prose...

soal 2

 

soal 1