![]() |
| AI Gemini |
Ekoteologi tidak cukup dipandang
sebagai cabang ilmu, melainkan sebuah kesadaran spiritual yang menempatkan
pelestarian alam sebagai bagian integral dari iman. Dalam konteks ini, cinta
menjadi jembatan pengikat yang menghubungkan kesalehan ritual puasa dengan
tanggung jawab moral menjaga bumi. Tanpa cinta, puasa hanya menjadi beban
fisik. Sedangkan tanpa kesadaran ekologis, cinta tersebut kehilangan ruang
hidupnya.
Akar dari segala ibadah dalam
Islam adalah cinta atau mahabbah. Ramadan adalah bulan di mana cinta diuji dan
dimurnikan. Ketika seorang mukmin memilih untuk tidak makan dan minum meskipun
tidak ada manusia yang melihat, ia sedang membuktikan bahwa cintanya kepada
Allah melampaui cintanya kepada keinginan ragawi.
Mencintai Sang Pencipta secara
otomatis menuntut penghormatan terhadap seluruh ciptaan-Nya. Di sinilah
ekoteologi masuk sebagai bahasa cinta yang praktis. Alam semesta adalah
"kitab terbuka" (ayat kauniyah) yang menceritakan kebesaran Tuhan.
Merusak alam, dalam kacamata ekoteologi, adalah bentuk penghinaan terhadap
karya seni Tuhan yang paling agung. Oleh karena itu, ramadan harus dipandang
sebagai momentum untuk memulihkan hubungan cinta yang retak antara manusia dan
lingkungan akibat keserakahan yang tak terkendali.
Salah satu prinsip utama
ekoteologi Islam yang sangat relevan dengan ramadan adalah konsep mizan atau
keseimbangan. Allah menciptakan alam semesta dalam keadaan seimbang, mulai dari
komposisi udara di atmosfer hingga ekosistem di dasar samudera. Puasa adalah
latihan spiritual untuk kembali pada keseimbangan tersebut. Selama sebelas
bulan, manusia sering kali terjebak dalam pola konsumsi yang eksploitatif dan
berlebihan—sebuah perilaku yang disebut israf dalam Al-Qur'an.
Ramadan datang untuk mengerem
laju konsumsi tersebut. Dengan membatasi asupan, kita diingatkan bahwa kita
tidak membutuhkan banyak hal untuk bertahan hidup. Kesederhanaan dalam ramadan
adalah bentuk protes diam-diam terhadap kapitalisme rakus yang menghancurkan
hutan demi industri. Dengan mencintai kesederhanaan, kita memberikan ruang bagi
alam untuk bernapas dan memulihkan dirinya sendiri.
Penerapan ekoteologi dalam ramadan
dapat dilihat dari bagaimana kita memperlakukan air dan makanan. Air adalah
sumber kehidupan yang dalam Islam memiliki kedudukan sangat suci; ia adalah
alat pembersih fisik dan spiritual (wudhu). Namun, ironisnya, pemborosan air
sering terjadi justru di tempat-tempat ibadah. Cinta kepada lingkungan dalam ramadan
seharusnya dimanifestasikan melalui penghematan air wudhu.
Begitu pula dengan makanan.
Fenomena "sampah makanan" yang melonjak tajam selama bulan ramadan
adalah anomali yang menyedihkan. Esensi puasa adalah merasakan lapar, namun sering
kali saat berbuka, manusia justru menjadi predator bagi alam dengan membeli
makanan secara berlebihan yang akhirnya terbuang. Ekoteologi mengajarkan bahwa
setiap butir nasi yang terbuang adalah bentuk pengkhianatan terhadap cinta
Tuhan yang telah menyediakan rezeki melalui proses panjang fotosintesis dan
kerja keras petani.
Lebih jauh lagi, Ramadan adalah waktu
untuk merenungkan konsep khalifah (pemimpin/penjaga). Sebagai khalifah, manusia
diberikan mandat untuk mengelola bumi, bukan untuk mendominasinya secara
tirani. Cinta seorang khalifah kepada buminya menyerupai cinta seorang gembala
kepada ternaknya—penuh perlindungan dan kasih sayang. Dalam perspektif ini,
ibadah batiniah selama ramadan mampu melahirkan aksi lahiriah seperti
mengurangi penggunaan plastik sekali pakai saat pembagian takjil.
Sampah plastik adalah simbol
dari budaya "sekali pakai" yang sangat bertentangan dengan nilai
keabadian dan keberlanjutan dalam agama. Jika kita mengaku mencintai Allah,
maka kita tidak akan membiarkan bumi yang Dia ciptakan tercekik oleh limbah,
yang kita hasilkan dari aktivitas ibadah kita sendiri.
Keadilan ekologis ini adalah
bentuk cinta tertinggi bagi generasi mendatang. Kita berpuasa hari ini agar
anak cucu kita tidak perlu "berpuasa" selamanya dari udara bersih dan
air segar karena kerusakan yang kita buat saat ini. Kesalehan seseorang tidak
lagi hanya diukur dari panjangnya rakaat shalat malamnya, tetapi juga dari
seberapa kecil jejak karbon yang ia tinggalkan di muka bumi.
Jika setelah ramadan kita
kembali menjadi pribadi yang boros, perusak lingkungan, dan abai terhadap
kelestarian semesta, maka puasa kita mungkin hanya menyentuh kulit luar tanpa
meresap ke sumsum spiritualitas. Cinta kita kepada Sang Khalik harus membumi
dalam bentuk tindakan nyata seperti menanam pohon sebagai sedekah jariyah,
menghemat energi sebagai bentuk syukur, dan mencintai lingkungan sebagai bagian
dari iman. Dengan demikian, ramadan benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian
alam (Rahmatan lil 'Alamin).

Komentar
Posting Komentar