![]() |
| dok pribadi (aksi tanggap banjir ambon) |
Kita tau bersama bahwa dunia hari ini tidak lagi
bergerak secara linier. Hunian kita ini sedang melompat, bergejolak, dan
terkadang membingungkan. Di tengah disrupsi teknologi dan pergeseran geopolitik
ekstrem, Indonesia berdiri di ambang pintu "Emas 2045". Tapi, sebuah
bangsa tidak akan menjadi emas hanya karena angka tahunnya berganti. Ia
membutuhkan manusia-manusia yang selesai dengan dirinya sendiri, dan memiliki
napas pengabdian yang panjang. Di sinilah peran Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia (KAMMI) dan napas pergerakannya (tarbiyah) menemukan relevansi
krusialnya dalam peta kepemimpinan bangsa.
Tarbiyah itu merupakan laboratorium karakter di balik
layar. Banyak yang melihat KAMMI hanya sebagai gerakan demonstrasi di jalanan
atau organisasi taktis di kampus. Padahal, di balik deru aksi tersebut, ada
jantung berdenyut tanpa henti bernama
tarbiyah. Secara harfiah, tarbiyah berarti pendidikan atau pengasuhan. Di dalam
konteks gerakan, ia adalah sebuah proses transformasi manusia yang berkelanjutan,
dan panjang. Ia adalah inspirasi sejarah para Nabi, para filusuf, para intelek,
para raja-raja agung.
Nafas itu bukan sekadar transfer pengetahuan
(transfer of knowledge), melainkan transfer nilai (transfer of value). Ia bisa
hadir di mana saja, baik secara kelompok-kelompok kecil di ruang virtual,
jiku-jiku kampus, ruang-ruang ibadah, pasar maupun masyarakat. Para kadernya
ditempa untuk memiliki integrasi antara kecerdasan intelektual, kematangan
spiritual, dan kepekaan sosial. Inilah disebut sebagai kepemimpinan berakar. Tanpa tarbiyah, aktivisme hanya akan
menjadi panggung narsisme politik yang dangkal.
"Kepemimpinan bukan tentang menduduki jabatan, melainkan tentang kapasitas menanggung beban. Untuk itu, Tarbiyah adalah tempat di mana pundak para pemimpin masa depan diperkuat."
Wadah candradimuka ini membawa genetika
perlawanan terhadap ketidakadilan. Dari gerakan moral ke gerakan politik nilai,
lahir di tengah bara reformasi 1998. Namun, di era candu ini, musuh yang
dihadapi bukan lagi sekadar rezim, melainkan apatisme, hoaks, dan polarisasi tajam.
Mawar merah ini perlu bertransformasi menjadi cawan nilai-nilai idealisme Islam
bertemu dengan realitas kebangsaan majemuk.
Kepemimpinan bangsa yang ditawarkan KAMMI adalah kepemimpinan
profetik. Sebuah model kepemimpinan yang meneladani sifat siddiq (integritas),
amanah (akuntabilitas), tabligh (komunikasi publik), dan fathonah (kecerdasan
profesional). Di era "post-truth", pemimpin jujur dan kompeten adalah
komoditas langka. KAMMI mencoba isi kekosongan itu dengan mencetak kader yang
tidak hanya pandai berorasi, tapi fasih
dalam solusi teknokratis.
Tantangan bagi kader KAMMI saat ini adalah
bagaimana menerjemahkan bahasa langit (nilai-nilai agama) menjadi bahasa bumi
(kebijakan publik, inovasi teknologi, dan pemberdayaan ekonomi). Adaptasi tanpa
kehilangan jati diri sangat perlu, sebab kita hidup dalam sebuah algoritma yang
seringkali lebih menentukan daripada aspirasi.
Kepemimpinan bangsa masa depan tak cukup hanya
bermodalkan "saleh ritual". Ia harus "saleh sosial" dan "saleh
digital". Kader-kader KAMMI harus mulai merambah sektor-sektor strategis
seperti artificial intelligence, ekonomi hijau, hingga diplomasi
internasional. Jika KAMMI hanya berhenti pada diskusi internal eksklusif, maka
ia akan menjadi menara gading yang tidak menyentuh realitas kemiskinan, dan
ketimpangan di lapangan.
Di era serba cepat ini, kita membutuhkan pemimpin
yang memiliki kecepatan berpikir namun juga memiliki ketenangan batin. Kita
membutuhkan mereka yang lincah berinovasi namun teguh memegang prinsip. Melalui
proses kaderisasi konsisten dan adaptif,
optimisme terhadap masa depan Indonesia tetap menyala. Sebab, selama proses
"pendidikan jiwa" itu masih ada, harapan akan lahirnya pemimpin yang
mencintai rakyatnya—dan dicintai oleh langit—tidak akan pernah padam.
Salah satu kritik terbesar terhadap gerakan
berbasis ideologi adalah potensi eksklusivitas. Untuk menuju kepemimpinan
bangsa yang inklusif, maka jati diri KAMMI yang berasaskan Islam Rahmatan lil
'Alamin seharusnya menjadi jembatan, bukan sekat. Kepemimpinan bangsa yang
lahir dari rahim ini harus mampu merangkul semua golongan.
Indonesia adalah sebuah mozaik besar. Pemimpin
masa depan yang dicita-citakan adalah mereka mampu membawa obor keadilan bagi
semua, tanpa memandang latar belakang suku maupun agama. Namun tetap memiliki
kompas moral kokoh dalam dirinya. Inilah esensi dari "Muslim
Negarawan"—identitas yang menjadi visi besar KAMMI.
Estafet tanpa henti ini sebuah garis kontinu.
Tarbiyah adalah akarnya, KAMMI adalah batangnya yang menjulang menantang angin,
dan kepemimpinan bangsa adalah buah yang dinikmati oleh seluruh rakyat.
Penulis adalah,
1. Ketua Umum PK KAMMI Pattimura: 2011-2012
2. Ketua Umum PD KAMMI Ambon: 2013-2015
3. Sekretaris Umum PW KAMMI Maluku: 2015-2017
4. AB 1 (2009), AB 2 (2012), AB 3 KAMMI (2017)

Komentar
Posting Komentar