Langsung ke konten utama

Belajar Jadi Guide Kok Ke Benteng Sih!

Judul tersebut, salah satu ungkapan yang kudengar tadi diantara peserta. Ya, menurut saya sangat wajar dia katakan seperti itu. Pasalnya, pelatihan kan bisa aja dalam kota, kok malah jauh-jauh, berjam-jam, berkilo-kilo, memutar tikungan, melewati jembatan-jembatan rusak dan jalan yang bergelombang.
Seperti biasanya, pelatihan itu kan mesti di sebuah ruangan, berAC, penuh meja eksekutif, dan beraroma wangi-pewangian ruangan. Betul kan? Ditambah make up yang tak pudar karena kepanasan, keringat yang membenamkan wanginya parfum. Itu idealnya.
Ternyata dibalik semua itu, beta sangat mengapresiasi kolaborasi Dinas Pariwisata Maluku, Lembaga Duta Pariwisata Maluku, Himpunan Pramuwisata Indonesia yang telah menyelenggarakan kegiatan workshop pemandu wisata bagi calon-calon guide di Benteng Amsterdam Desa Hila Kabupaten Maluku Tengah.
Disini saya tidak membahas segala teori yang disampaikan oleh para narasumber.  Tak dipungkiri, semua narasumber menyampaikan materi dengan begitu luar biasa. Narasumber yang hadir misalnya, Pak Mus Huliselan (Mantan Rektor Unpatti) beliau membahas sejarah dan pola perdagangan Maluku, Pak Renol yang menyampaikan paparan tentang penguatan ekowisata bahari, kemudian trik-trik menjadi guide yang benar, dll.
Namun, menjadi topik beta ketika mengikuti kegiatan ini adalah why Amsterdam Fort? Begini ceritanya:
1. Distance
Yah. Jarak yang jauh ditempuh, melewati batas wilayah kota dan kabupaten, Desa Hila. Ternyata jarak itu sangat berkorelasi dengan sikap sabar dan berpikir dinamis. Disini kita belajar, bahwa menjadi guide itu perlu kesabaran dan dinamisasi sikap yang harus berenergi. Sebab menjadi guide, kita sedang menjadi "dokter" untuk menenangkan jiwa para wisatawan yang kita ajak. Jangan sampai akibat tak sabaran dan cepat bosan membuat attitude kita dimata mereka menjadi -0. Akhirnya tak akan ada sustainable. Nilai kita jatuh, dimata mereka.
2. Stamina
Yah. Lagi-lagi soal stamina. Bayangkan, awalnya beta berpandangan nanti sampai di TKP, kita akan didudukan pada areal benteng, kemudian ada "sabuah" untuk pelindung dari panas dan hujan. Minimal hujan. Karena, saat ini musim hujan. But, panitia menyuruh kita naik ke atas, lantai tiga. Cukup lumayan, jika anda tidak terbiasa olahraga, harus pulang balik, naik turun, mendaki 35 anak tangga yang ada. Kaki kerasa kesemutan. Asam urat timbul seketika, etss 'urat-urat timbol'.  Hehe. Beta kasihan juga, ada orang yang berusia sekitar kepala 6 harus menaiki tangga menjungkir itu.
Lagi-lagi, kita belajar, menjadi guide harus punya stamina prima. Kebutuhan stamina prima akan berefek pada standar pelayanan maksimum. Jangan sampai kita cepat mengeluh dengan diri, ketika sedang mengantarkan wisatawan. Jangan sampai ada kalimat, "bos, tunggu ee, beta istrahat dolo." Hehehe.
3. View
Mata manusia tidak akan berbohong. Sesuatu yang indah itu pasti terekam dan langsung tanpa sensor, dan lisan akan menyampaikannya dengan kata-kata. Itu fitrah.
Begitulah, outlook benteng yang berjarak 42 km dari kota Ambon, yang dibangun oleh Portugis tahun 1512 sangatlah menjadi tampilan menarik yang punya nilai historis.
Di Maluku, sangat banyak kita temukan benteng. Karena benteng dijadikan sebagai tempat bertahan dan imperialisme. Sama halnya dengan benteng ditepian laut ini.
Dari atas benteng, lewat jendela-jendela kecilnya, lalu pemandangan laut lepasnya yang berpapasan langsung dengan Pulau Seram, mengingatkan kita tentang drama perlawanan Perang Rempah-rempah oleh Portugis-Belanda-Pribumi. Bahwa sesungguhnya, Cengkeh dan Pala warnanya pernah merah dan menjadi tumbal bagi orang-orang yang tergiur oleh aroma dan harganya. Malahan, dari pemaparan salah satu pemateri, kita tau bahwa masa itu, anak Pala dan Cengkeh sebanyak 400-an dibawa lari oleh kolonial dari daerah ini dan ditanam di Madagaskar dsb. Sehingga, berakibat pada nilai-jual harganya. Ini juga mengingatkan kita pada kisah di Banda.
4. Imaji jadi kata
Tak dipungkiri, tulisan ini beta tulis dalam mobil menuju Ambon sejak jam 18.29-19.30 WIT. Sanyup-sanyup suara adzan Magrib mengizhar dalam telinga. Suara malam dan lampu sorot mobil mengalahkan kunang-kunang yang memaksa dalam kegelapan. Ditambah hujan yang mengguyur deras, suara-suara kaca terbelah-belah. Deruan mesin mobil berakit-rakit, ban mobil berjingkat pelan. Ini malam Kamis. Ada mobil "tabale" di putaran tikungan sebelum dusun Hulung. Besok libur.
Terima kasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melasti dan kem (Bali) ke Kuta

Bersama rinduku walau kita jauh, kasih Suatu saat di Kuta Bali (Andre Hehanusa) Penggalan lagu mantan band Katara Singers tersebut sangat memukau. Semukau pesona yang ada di pantai Kutanya. Namun ada sesuatu yang membuat indah Bali selain pantainya, yaitu budaya dan adat istiadatnya. Masyarakat Bali sangat melekatkan budayanya dalam kehidupan sehari-hari.  Sejak turun dari pesawat, nuansa keBalian telah menyambut kita. Para porter bandara menyapa ramah dengan balutan pakaian safari berwarna merah dengan udeng kepalanya. Hal yang paling sakral yang saya dengar juga bahwa di Bali, tinggi gedung tidak boleh melebihi tingginya Pura. Bukan masalah mitos, bahkan jembatan penghubung Jawa-Bali tidak bisa disetujui lantaran karena hal tersebut. Khazanah yang sama, saya temukan di Kuta juga yaitu Melasti. Upacara pensucian diri ini sangat menarik simpati pengunjung termasuk saya. Itulah daya pikat Bali selain gadis-gadisnya yang anggun layaknya gadis solo.  Prose...

Aksi Nyata Para Pelindung Bumi

AI Kegiatan itu digagas oleh Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT), sebuah Unit Kegiatan Kemahasiswaan Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip Semarang. "Ini sarana untuk menumbuhkan semangat konservasi terhadap ekosistem mangrove kepada generasi muda," jelas Trialaksita Sari Priska, Menteri Sekretaris KeSEMaT. Aktivitas kepedulian terhadap lingkungan tersebut bermula dari keresahan mahasiswa Ilmu Kelautan Undip terhadap kerusakan ekosistem mangrove di Teluk Awur, Jepara yang menjadi tempat praktik dan penelitian mata kuliah mereka. Mereka tidak ingin hanya meresahkan sesuatu. Mereka ingin melakukan tindakan nyata. Menurut Dinuarca Endra Wasistha, Presiden KeSEMaT, aksi mereka selanjutnya berkembang dari hanya menanam mangrove hingga membuat kreasi yang menghasilkan uang melalui CV KeMANGI. Tidak hanya itu, mereka juga mendirikan Yayasan Ikatan Alumni KeSEMaT (IKAMaT) dan menggalang KeSEMaT Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) yang terseba...

Muncul Awan seperti Gelombang Tsunami Aceh, Ini Penjelasan BMKG

Gemini Ai Warganet ramai memperbincangkan video viral tentang awan berbentuk tsunami di atas Kota Meulaboh, Provinsi Aceh, Senin (10/8/2020). Akun Twitter @masawep atau Arief Arbianto yang menggunggah video tersebut menulis, “Mohon doanya agar Kota Meulaboh baik2 saja. Pemandangan awan pagi ini di atas kota Meulaboh, Aceh Barat.» Melihat fenomena alam yang viral ini, sebagian masyarakat bertanya-tanya apakah awan ini pertanda datangnya bencana alam. Menanggapi viralnya video fenomena awan tersebut, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini BMKG, Miming Saepudin, pun angkat bicara. Miming menuturkan bahwa memang benar fenomena awan berbentuk seperti tsunami di video tersebut merupakan fenomena yang relatif jarang terjadi. “Secara ilmiah, fenomena awan tersebut dinamakan dengan awan arcus,” kata Miming kepada Kompas.com, Senin (10/8/2020). Untuk diketahui, awan arcus adalah jenis awan rendah dan memiliki formasi pembentukan horizontal. Dijelaskan Miming, awa...