| AI |
Kegiatan itu digagas oleh Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT), sebuah Unit Kegiatan Kemahasiswaan Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip Semarang.
"Ini sarana untuk menumbuhkan semangat konservasi
terhadap ekosistem mangrove kepada generasi muda," jelas Trialaksita Sari
Priska, Menteri Sekretaris KeSEMaT.
Aktivitas kepedulian terhadap lingkungan tersebut bermula
dari keresahan mahasiswa Ilmu Kelautan Undip terhadap kerusakan ekosistem
mangrove di Teluk Awur, Jepara yang menjadi tempat praktik dan penelitian mata
kuliah mereka. Mereka tidak ingin hanya meresahkan sesuatu. Mereka ingin
melakukan tindakan nyata.
Menurut Dinuarca Endra Wasistha, Presiden KeSEMaT, aksi
mereka selanjutnya berkembang dari hanya menanam mangrove hingga membuat kreasi
yang menghasilkan uang melalui CV KeMANGI. Tidak hanya itu, mereka juga
mendirikan Yayasan Ikatan Alumni KeSEMaT (IKAMaT) dan menggalang KeSEMaT
Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) yang tersebar di Semarang, Jakarta, Surabaya
dan Yogyakarta.
"Termasuk juga mendirikan Mangrove Education Center of
Kesemat (MECoK)," tandas Dinuarca.
Adapun kegiatan KeSEMaT begitu beragam yang berfokus pada
konservasi, penelitian, pendidikan, kampanye mangrove
melalui berbagai kegiatan pengajaran, penyuluhan, pembibitan, penanaman dan
pemeliharaan mangrove serta pemberdayaan masyarakat pesisi.
Jerih payah
perjuangan mereka selama 14 tahun dalam mengenalkan dan menunjukkan pentingnya
pelestarian mangrove bagi ekosistem wilayah pesisir pun diganjar penghargaan
bergengsi seperti Tunas Lestari KEHATI pada KEHATI Award VIII 2015, Juara II
Adibakti Mina Bahari Jawa Tengah sebagai Insan Peduli Lingkungan Pesisir
kategori Lembaga Swadaya Masyarakat. Mereka juga memperoleh Juara III Adibakti
Mina Bahari tingkat Nasional bidang Pesisir kategori Kelompok Masyarakat dari
Kementerian KKP RI. Tidak ketinggalan, mereka meraih penghargaan Coastal Award
2012 Kategori Akademisi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia.
Upaya tersebut
telah membuahkan hasil. KeSEMaT berhasil menanam dan pembibitan 100 ribu bibit
mangrove di pesisir di Jawa dan menghijaukan satu hektare lahan mangrove gundul
di pesisir pantai Teluk Awur menjadi hutan kota hingga kawasan itu menjadi
tempat hidup beragam fauna mangrove, seperti kerang, ikan, kepiting, dan udang.
Mereka juga mendorong konservasi mangrove melalui edukasi dan kampanye.
"Kami
melakukan kampanye dan pendampingan pembelajaran rehabilitasi mangrove hingga
pengolahan makanan berbahan baku mangrove untuk meningkatkan ekonomi masyarakat
pesisir," jelas Mahbub Murtiyoso, yang menjadi Kemangteer (sebutan untuk
volunter KeSEMaT).
Belajar tentang
mangrove dan ikut andil dalam pelestarian dan konservasi mangrove yang sekarang
ini sudah rusak parah menjadi alasan mahasiswa Ilmu Kelautan 2014 bergabung
dengan KeSEMaT.
"Aktivitas
ini sangat menyenangkan dan menciptakan kesan mendalam ketika kami bisa
berinteraksi dengan warga dan banyak pihak yang peduli terhadap lingkungan
pesisir. Apalagi kegiatan berhubungan dengan mangrove ini lebih berfokus kepada
anak muda seperti Kesematjurnal, Kesematonline, Kesematours, Kesemat Movie,
Kesematmag, dan Kesematkuistik."
Tidak berhenti
di situ, KeSEMaT ingin virus cinta lingkungan yang mereka sebarkan mampu
menambah kecintaan anak muda pada mangrove.
"Semoga
makin banyak yang peduli dengan mangrove dan menjadikan mangrove sebagai gaya
hidup," kata Danu.
Memunguti Sampah
Gunung Kepedulian dan solidaritas akan keberlanjutan lingkungan dan bumi juga
ditunjukkan Trashbag Community yang doyan memunguti sampah di gunung. Komunitas
yang lahir 11 November 2011 di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini
digawangi anak muda yang tergerak membersihkan sampah di pegunungan.
"Awalnya kami
prihatin dengan banyaknya sampah di sejumlah gunung Indonesia. Kami merangkul
semua pihak, khususnya anak muda untuk peduli. Karena itu, terbentuklah
komunitas peduli sampah gunung ini," ujar Imam Sukamto, salah satu
penggagas Trashbag Community.
Berikut adalah ekstraksi teks dari gambar yang Anda
unggah:
Selain aksi nyata dengan terjun ke lapangan dan memunguti
sampah para pendaki, untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya tidak membuang
sampah sembarangan di gunung, komunitas ini juga melakukan berbagai kegiatan
seperti Jambore Sispala bersama para pencinta alam.
Kelompok lain yang setali tiga uang dalam upaya menjaga
bumi adalah Komunitas Peduli Bumi "AtmosPHere". Dalam semua
kegiatannya, mereka serius banget mencari solusi dan alternatif untuk menyelamatkan
bumi. Komunitas itu kali pertama dicetuskan pada tahun 2008 dari obrolan ringan
lima mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip. Mereka adalah Wibowo Eko
Prayitno, Verry Aji Kurniawan, Ali Purnomo, Putrie Prasetyotami dan Resti
Elviana. Kelimanya memiliki komitmen sama: menjadi "pelindung bumi".
AtmosPHere ingin mengabdikan diri untuk bumi bersama
masyarakat melalui berbagai program reuse reduce recycle,
environment production,
konservasi dan pemberdayaan masyarakat melalui para volunternya yang tersebar
di berbagai daerah seperti Surabaya, Jepara, dan Bali.
Kusniawati Rahayu, atmospherian
(sebutan bagi anggota AtmosPHere) mengatakan, sebagai salah satu Pencetus Car Free Day di Kota
Semarang, banyak kegiatan yang dilakukan komunitasnya seperti pelatihan daur
ulang kertas, penanaman pembibitan mangrove, pengomposan dan aksi pungut
sampah, pelatihan Biopori, aksi dan Campaign Forest Defender
Indonesia, Vote for Forest, Stop Crime Trees, Saving Water and Energy,
hingga Mountain Clean Up
dan pendampingan bank sampah.
Para volunter pelindung bumi berharap gerakan ini dapat
menjadi gerakan masif bagi semua pihak.
Sumber: buku teks Bahasa Indonesia kelas 7
Komentar
Posting Komentar