Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label kurikulum merdeka

Aksi Nyata Para Pelindung Bumi

AI Kegiatan itu digagas oleh Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT), sebuah Unit Kegiatan Kemahasiswaan Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip Semarang. "Ini sarana untuk menumbuhkan semangat konservasi terhadap ekosistem mangrove kepada generasi muda," jelas Trialaksita Sari Priska, Menteri Sekretaris KeSEMaT. Aktivitas kepedulian terhadap lingkungan tersebut bermula dari keresahan mahasiswa Ilmu Kelautan Undip terhadap kerusakan ekosistem mangrove di Teluk Awur, Jepara yang menjadi tempat praktik dan penelitian mata kuliah mereka. Mereka tidak ingin hanya meresahkan sesuatu. Mereka ingin melakukan tindakan nyata. Menurut Dinuarca Endra Wasistha, Presiden KeSEMaT, aksi mereka selanjutnya berkembang dari hanya menanam mangrove hingga membuat kreasi yang menghasilkan uang melalui CV KeMANGI. Tidak hanya itu, mereka juga mendirikan Yayasan Ikatan Alumni KeSEMaT (IKAMaT) dan menggalang KeSEMaT Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) yang terseba...

Sambut Tahun Ajaran Baru di Madrasah, Apa Saja yang disiapkan?

Sesuai dengan surat edaran Dirjen Pendis Kemenag 540/2024, semua madrasah mengawali tahun ajaran   2024/2025 pada tanggal 15 Juli 2024, tepat pada hari Senin. Tahun ajaran baru selalu menjadi momen yang dinanti sekaligus menantang bagi dunia pendidikan, tak terkecuali di madrasah.  Memasuki tahun ajaran ini ada beberapa hal krusial yang perlu menjadi fokus persiapan di madrasah, antara lain: Riset Murid Matsenada 1.   Penguatan Kurikulum yang Relevan Integrasi teknologi & keterampilan abad 21:  m adrasah perlu   memastikan   kurikulum mengintegrasikan teknologi digital dan   mengembangkan   keterampilan abad 21 seperti   critical thinking ,   kolaborasi,   komunikasi, dan   kreativitas. Pendidikan karakter & moderasi beragama:  p enguatan pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam   moderat   tetap menjadi prioritas   untuk   mencegah   intoleransi dan radikalis...

Kejutan—Kejutan dalam Giat Kurikulum Merdeka MTsN 4 Malteng

ikope ele be, dusio ukoyiko i hoho ele be niyao upadiko, talalu tinggi di sambar burung elang, talalu rendah juga dililit ular, hidup ini sederhana saja (BA) Tepat usia 30, Saparua sudah tiga kali saya singgahi. Petualangan saya diawali ke Jazirah Hatawao. Kali ini saya ke arah Jazirah Tenggara Saparua yaitu SSI. Kehadiran saya, diundang oleh MTsN 4 Maluku Tengah untuk giat berbagi Kurikulum Merdeka bagi guru—guru MI, MTs dan MA di desa Louhata ini. Louhata memiliki arti berkumpul/bermusyawarah. Lou (berkumpul) dan Hata (bermusyawarah untuk kemajuan). MTsN 4 Maluku Tengah adalah satu—satunya madrasah tsanawiyah yang berada di desa ini. Sama dengan masyarakatnya, guru—gurunya sangat humble. Beberapa kali saya isi materi di pulau—pulau, saya berkesimpulan bahwa orang pulau itu sangat bersahabat dengan orang baru. Hal yang mengejutkan adanya suprise oleh moderator, Bu Cica," Pa, Selamat ulang tahun .” Wkwkwk. Walau hanya memanfaatkan waktu yang pendek, bagi saya dapat membe...

Carita Hidop dari Bapa Abu

iyoi pa'a ata yane pa'a iya , hidup seperti budak, tapi makan kita seperti makanan raja (BA) Seperti cerita saya pada bagian pertama pada beranda FB saya. Cerita ini kelanjutannya. Saya perlu mengakui, masyarakat Siri Sori Islam sangat welcome dengan turis seperti saya. Wkwkwkw. Bukan saya saja yach, tetapi semua pengunjung yang datang ke sana. Di kampung ini ada yang unik, adanya semacam homestay kayak di Banda atau Bukit Purba Yogya, membuat para pengunjung tidak perlu khawatir untuk berteduh lelahnya. Harga homestay sangat terjangkau kantong para pelancong atau traveller yang mau ke sana. Homestay tepat berada di bibir pantainya. Kita akan disuguhi sunrise dan sunsite yang eksotik dari balik pegunungan Sanirinya. Apalagi ketika pulang ada buah tangan kepada keluarga di rumah yaitu sagu tumbunya. Padahal SSI bukan daerah pariwisata. Tetapi semangat kewirausahaan ini perlu diapresiasi. Saya kebetulan nginap di homestay milik Bapa Abu Sahupala, dan Mama Musia Toi...

Saparua dan Jejak Moyang

Saparua, pulau kecil dalam gugusan pulau—pulau Lease. Tepat usia 30 tahun, pulau berjulukan Nusa Sapanorua saya kunjungi. Kunjungan tersebut adalah untuk ketiga kalinya sejak tahun 2009, dan 2013. Ada banyak sejarah dari pulau ini. Selain sejarah perjuangan Pattimura, Said Perintah, dll. Salah satunya, Saparua adalah tanah putus pusa moyang saya. Saya hanya mendengar cerita dari Bapak ketika menemani beliau jalan—jalan atau pameri kusu—kusu. Sambil beristirahat di bawah pohon cengkeh, Beliau selalu menceritakan perihal asal usul moyang—moyang," Abang, nanti jaga pi di kamong moyang pung kampung." Almarhum Bapak saya adalah perantau ulung. Hidup beliau lebih banyak antarlautan, atarpulau sehingga sangat banyak yang beliau tau. Surga menyertaimu. Banyak nilai—nilai kehidupan yang diwariskan bagi saya dan kakak—kakak, nilai—nilai tersebut saya dapat padanan katanya dalam bahasa Siri Sori Islam,” iyoi waha ulele , yang bermakna hidup tidak boleh harap gampang.” Kembali ke top...