Langsung ke konten utama

Catatan Pemilu Malaysia Terhadap Indonesia

Dibalik kemenangan partai oposisi, berawal dari isu pemilu Malaysia yaitu melambungnya harga kebutuhan hidup, gap antara kaya miskin terjadi, kehidupan glamor keluarga penguasa, dan terpenting adalah imperialslisme modern Tiongkok.
Sebagai negara tetangga, spirit kemenangan pemilu di Malaysia menjadi hikmah demokrasi bagi Indonesia. Setahun lagi, pemilihan umum serentak (pileg dan pilpres) diadakan sepaket. Rilis lembaga survei, misalnya LSI, parpol dibagi telah terbagi dalam empat golongan berdasarkan angka PT. Menariknya, kategori partai papan atas ditempati oleh partai yang bernafas langsung dengan orde baru, walaupun beraliran politik yang berbeda. Ketiga partai itu, Golkar, PDIP, dan Gerindra.
Menariknya, soal pilpres, hanya Gerindra-lah yang sudah mendeklarasikan capresnya dengan mengusung Prabowo. Sementara, Golkar dan PDIP masih ragu-ragu dalam menyalonkan sosoknya. Sebelum itu, media sudah mengenduskan Incumbent, Jokowi sebagai kandidatnya. Namun, mereka seperti kehilangan kepercayaan diri, walaupun PDIP dan Golkar menjadi partai raja saat ini diparlemen, tetapi, soal siapa yang dijagokan, mereka khawatir karena Jokowi pun masih belum aman elektabilitasnya.
Disamping itu, pemilu 2019 menjadi pemilu yang sangat terseksi isunya. Berkaca dari pemilu Malaysia hari ini, maka ada tiga hal:
1. Orang lama masih mendominasi
Hasil pemilu Malaysia yang merebut 222 kursi parlemen, menghentikan langkah Partai Pengusan Barisan Nasional. Partai Opisisi sang mantan PM Malaysia, malah mendulang suara yang naik signifikan. Malahan, di daerah negara bagian Johor basis penguasa,  sang oposisi mudah menang. Dengan optimistis, Mahathir berujar kalau koalisi PH telah mengamankan Penang, Selangor, Melaka, Negeri Sembilan,  dan Kedah juga.
Dilihat dari sisi pengalaman, Mahathir adalah sosok berpengalaman. Pernah menjabat sebagai PM sezaman dengan Suharto (Presiden RI masa itu) telah menjadikan beliau petarung yang tau medan. Dibawah kepemimpinan beliau, Malaysia sangat maju.
Itu artinya, masyarakat bukan saja memerlukam ide perubahan, melainkan berpengalaman.
2. Pertarungan kepentingan Amerika dan Tiongkok
Isu ini yang sedang menjadi krusial efek, khususnya negara-negara yang berada di ASEAN. Keterlibatan Amerika dan Cina dalam perdagangan global telah menimbulkan tensi yang tinggi.
Kebetulan saya pernah ke Malaysia, baru tahun kemarin. Saya menyaksikan sendiri keadaan itu. Hampir 90% lambang-lambang  Tiongkok merajai segala jiku Malaysia. Salah satunya, keberadaan Megaproyek Forest City di Johor. Yang menimbulkan naiknya daya hidup masyarakat. Sehingga, yang terjadi adalah gap sosial. Masih ada juga yang lain tentu.
3. Glamornya pejabat penguasa.
Tred berkuasa adalah kemewahan. Hal itu telah mendarah daging. Sehingga, akan mempengaruhi sikap politik masyarakat. Efeknya penguasa kehilangan suara yang cukup berat. Apalagi jika yang melakukan hal tersebut adalah keluarga istana.
Nah, setidaknya, di Indonesia jelang pemilu 2019. Penguasa mesti cermat dalam menarik perhatian publik. Tetapi, bagaimana mau berhasil, sementara Istana belum bisa memberikan jawaban atas problematika yang ada. Mungkinkah di injury time harga sembako baru diturunlan, BBM digratiskan, nilai kurs rupiah diperbaiki, TKA ditindaklanjuti?
Karena jika tidak, partai penguasa akan kehilangan marwahnya. Itu artinya siklus kepempimpinan ke depan akan berubah dari Beringin ke Banteng. Banteng ke Garuda. Ingat pada pembahasan poin satu, bahwa yang dibutuhkan Indonesia ke depan adalah pemimpin berpengalaman dan bisa merubah kondisi yang sekarang. Ingat pula, serikat partai Nasionalis-Religius (Gerindra-PKS) telah menjadi oposisi yang telah dikawinkan atas semangat Indonesia Baru. Maka, ini bisa menjari kuda hitam bagi penguasa.
Semoga Malaysia-Indonesia selalu bisa berkawan dan memajukan Asia Tenggara. Tentu dengan pemimpin yang visioner dan merakyat. Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melasti dan kem (Bali) ke Kuta

Bersama rinduku walau kita jauh, kasih Suatu saat di Kuta Bali (Andre Hehanusa) Penggalan lagu mantan band Katara Singers tersebut sangat memukau. Semukau pesona yang ada di pantai Kutanya. Namun ada sesuatu yang membuat indah Bali selain pantainya, yaitu budaya dan adat istiadatnya. Masyarakat Bali sangat melekatkan budayanya dalam kehidupan sehari-hari.  Sejak turun dari pesawat, nuansa keBalian telah menyambut kita. Para porter bandara menyapa ramah dengan balutan pakaian safari berwarna merah dengan udeng kepalanya. Hal yang paling sakral yang saya dengar juga bahwa di Bali, tinggi gedung tidak boleh melebihi tingginya Pura. Bukan masalah mitos, bahkan jembatan penghubung Jawa-Bali tidak bisa disetujui lantaran karena hal tersebut. Khazanah yang sama, saya temukan di Kuta juga yaitu Melasti. Upacara pensucian diri ini sangat menarik simpati pengunjung termasuk saya. Itulah daya pikat Bali selain gadis-gadisnya yang anggun layaknya gadis solo.  Prose...

Sekolah Masa Depan Jembatani Kecerdasan Buatan dan Kearifan Lokal

ilustrasi AI Sekolah masa depan menjadi medium antara kemajuan teknologi, dan akar budaya lokal. Kemajuan teknologi (AI) telah merambah hampir semua aspek kehidupan, termasuk dunia pendidikan. Namun, tanpa nilai-nilai kearifan lokal, pendidikan bisa kehilangan arah dan makna kontekstual. Penting bagi sekolah masa depan untuk tetap menjaga keseimbangan antara globalisasi dan lokalitas. Keseimbangan ini menjadi pondasi agar generasi masa depan tidak tercerabut dari identitasnya. Kecerdasan buatan menawarkan efisiensi dan personalisasi dalam proses belajar. AI dapat memetakan kemampuan siswa secara individu, dan menyesuaikan materi pembelajaran sesuai kebutuhan mereka. Sistem seperti chatbot pendidikan, analitik pembelajaran, dan tutor digital semakin marak digunakan. Hal ini memberikan kesempatan belajar yang lebih adaptif, dan interaktif bagi siswa. Tapi, semua kecanggihan ini tetap membutuhkan nilai moral sebagai pengarah. Di sisi lain, kearifan lokal adalah warisan budaya yang men...

soal 2