Langsung ke konten utama

Guru Langka

Setelah pelepasan peserta Pelatihan K13 saat Ramadhan kemarin di aula lembaga penjamin mutu Maluku, saya bergegas ke mushala untuk menunaikan sholat Magrib.
Senja yang terkumpul di barat menyurati jiwa untuk khusyuk beribadah. Bacaan sang imam menambah nilai tersebut.
Selesai sholat, saya melihat sang imam bercanda tawa dengan sebagian jamaah di teras mushala.
Saya hanya menyimak saja, sebab di antara mereka, usianya melebihi usiaku. Namun, aura canda mereka terkesan "muda" banget dan cair. Sehingga, saya pun tak gugup untuk bertanya dan berjabat tangan tanpa keraguan untuk memperkenalkan diri.
Obrolan mereka terdengar begitu serius membicarakan persoalan dinamika pendidikan. Mulai dari manajemen, politik anggaran, pemerataan tenaga pendidik, serta kualitas sekolah di era otonom.
Bisa dimaklumi, sebab Maluku termasuk kawasan tertinggal dari segi pendidikan. Mutu pendidikan berada pada great bawah atau juru kunci. Maka, jika dalam pedoman penskoran persepakbolaan, Maluku terdepak dari Liga Utama.
Tapi, tak masalah. Masih banyak manusia-manusia tulus yang rela mengorbankan harinya guna mengabdikan diri tanpa pamrih dalam menjaga panji pendidikan agar tetap berkibar dan meninggi.
Salah satu contohnya Pak Murad. Nama lengkapnya La Madi Murad. Beliau tinggal di kawasan Tantui, namun tempat ngajarnya di SMP Negeri 18 Ambon, Desa Ema Kacamatan Leitimur Selatan. Setiap harinya beliau menempuh perjalanan sekitar 13 km menuju sekolah. Naik-turun angkot, melewati beberapa desa, perbukitan, berjalan kaki pernah dilakukan oleh beliau.
Kecamatan Leitimur, walau termasuk kawasan kota, tetapi jalan menuju ke sana masih belum baik. Jika, terjadi hujan, maka siap-siap untuk menghadapi tanah longsor dan retakan tanah bahkan banjir pada seluruh lingkar jalan rayanya.
Usianya yang sudah lansia tetap berenergi. Semangat jiwanya mendatangkan berkah. Baru saja beliau mendapat penghargaan dari pemkot atas jasanya pada sela Hari Pendidikan tahun ini.
Beliau bilang," ana e, jadi orang itu harus biking sanang orang. Jang, beda-bedakan. Deng bagitu, katong bisa hidop di mana saja."
Kisah uniknya ialah ketika tragedi sosial yang melanda Ambon dulu tak membuat beliau bergeming. Malah bertahan di sekolah tersebut hingga kini. Sambutan masyarakat," bapa guru, telah mengakrabkan kehidupan. Kata beliau," beta deng dong su jadi keluarga.

#tutWuriHandayani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melasti dan kem (Bali) ke Kuta

Bersama rinduku walau kita jauh, kasih Suatu saat di Kuta Bali (Andre Hehanusa) Penggalan lagu mantan band Katara Singers tersebut sangat memukau. Semukau pesona yang ada di pantai Kutanya. Namun ada sesuatu yang membuat indah Bali selain pantainya, yaitu budaya dan adat istiadatnya. Masyarakat Bali sangat melekatkan budayanya dalam kehidupan sehari-hari.  Sejak turun dari pesawat, nuansa keBalian telah menyambut kita. Para porter bandara menyapa ramah dengan balutan pakaian safari berwarna merah dengan udeng kepalanya. Hal yang paling sakral yang saya dengar juga bahwa di Bali, tinggi gedung tidak boleh melebihi tingginya Pura. Bukan masalah mitos, bahkan jembatan penghubung Jawa-Bali tidak bisa disetujui lantaran karena hal tersebut. Khazanah yang sama, saya temukan di Kuta juga yaitu Melasti. Upacara pensucian diri ini sangat menarik simpati pengunjung termasuk saya. Itulah daya pikat Bali selain gadis-gadisnya yang anggun layaknya gadis solo.  Prose...

Aksi Nyata Para Pelindung Bumi

AI Kegiatan itu digagas oleh Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT), sebuah Unit Kegiatan Kemahasiswaan Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip Semarang. "Ini sarana untuk menumbuhkan semangat konservasi terhadap ekosistem mangrove kepada generasi muda," jelas Trialaksita Sari Priska, Menteri Sekretaris KeSEMaT. Aktivitas kepedulian terhadap lingkungan tersebut bermula dari keresahan mahasiswa Ilmu Kelautan Undip terhadap kerusakan ekosistem mangrove di Teluk Awur, Jepara yang menjadi tempat praktik dan penelitian mata kuliah mereka. Mereka tidak ingin hanya meresahkan sesuatu. Mereka ingin melakukan tindakan nyata. Menurut Dinuarca Endra Wasistha, Presiden KeSEMaT, aksi mereka selanjutnya berkembang dari hanya menanam mangrove hingga membuat kreasi yang menghasilkan uang melalui CV KeMANGI. Tidak hanya itu, mereka juga mendirikan Yayasan Ikatan Alumni KeSEMaT (IKAMaT) dan menggalang KeSEMaT Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) yang terseba...

Muncul Awan seperti Gelombang Tsunami Aceh, Ini Penjelasan BMKG

Gemini Ai Warganet ramai memperbincangkan video viral tentang awan berbentuk tsunami di atas Kota Meulaboh, Provinsi Aceh, Senin (10/8/2020). Akun Twitter @masawep atau Arief Arbianto yang menggunggah video tersebut menulis, “Mohon doanya agar Kota Meulaboh baik2 saja. Pemandangan awan pagi ini di atas kota Meulaboh, Aceh Barat.» Melihat fenomena alam yang viral ini, sebagian masyarakat bertanya-tanya apakah awan ini pertanda datangnya bencana alam. Menanggapi viralnya video fenomena awan tersebut, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini BMKG, Miming Saepudin, pun angkat bicara. Miming menuturkan bahwa memang benar fenomena awan berbentuk seperti tsunami di video tersebut merupakan fenomena yang relatif jarang terjadi. “Secara ilmiah, fenomena awan tersebut dinamakan dengan awan arcus,” kata Miming kepada Kompas.com, Senin (10/8/2020). Untuk diketahui, awan arcus adalah jenis awan rendah dan memiliki formasi pembentukan horizontal. Dijelaskan Miming, awa...