Langsung ke konten utama

Menjadi Guru: Mainkan Saja Peranmu!

 
istimewa
Menjadi guru adalah pilihan tepat. Bila dulu, seringkali guru diabaikan tentang kesejahteraan dan kapasitas. Abad kekinian perihal hal tersebut mulai mendapatkan titik terang. Walau masih ada di beberapa daerah, kasus kesejahteraan guru masih jadi momok.

Saat ini, pembahasan inti guru harus lebih maju, tak sekedar tentang seberapa banyak gaji. Toh, di lapangan ditemukan juga ada oknum guru yang bergaji gede, namun minim kapasitas. Bahkan kontribusi atas tugas pokok dan fungsinya diabaikan. Padahal, mereka sudah mendapat “kesenangan” daripada kesenjangan.

Malahan, seharusnya kesenjangan terjadi pada guru-guru yang mengabdi pada pedalaman jauh, tetapi jangan ditanya tentang bakti kepada negeri. Jauh dari pusat kota, gaji kecil, saat lebaran hanya pakai baju lima tahun lalu, tetapi akar pengabdian mereka memajukan anak bangsa, tetap kokoh. Silakan dibaca negara berhutang pada guru honorer

Sekelumit masalah tentang guru, akan tidak pernah selesai. Bila kita hanya berbicara tentang kesejahteraan atau kapasitas. Itu terlalu kecil. Ada yang lebih besar, yaitu memastikan para guru benar-benar mencintai pekerjaannya. Sesuatu yang dicintai, pasti diperjuangkan, hingga ia masuk liang lahat.

Simaklah, para guru hebat tidak terjebak pada hal-hal pragmatis. Mereka konsen pada nasib anak didiknya. Waktu mereka unlimited. Mainkan saja peranmu wahai guru, engkau tulang punggung peradaban, engkau diciptakan untuk menguasai hati anak didikmu, agar kelak hati-hati mereka mengenal Allah dan manusia.

Itulah peran guru sejati. Berkali-kali dalam diskusi, pendidikan yang memiskinkan itu bukanlah tentang materi, melainkan apakah guru mencintai profesi ini? Atau guru terpaksa menjalani profesi mulia ini? Bahkan sangat mulianya profesi guru, tidak semua orang benar-benar mau jadi guru, melainkan ada maunya.

Apalagi di tengah pandemik ini, kerja guru diuji. Mainkan saja peranmu, wahai guru. Engkau adalah mesin amal terbaik, yang dilahirkan pertiwi untuk memanusikan generasi. Walau, nasibmu menjadi komoditas politik, tetapi yakinlah takdir Allah itu akan baik padamu. Hanya perlu kesabaran dalam dirimu terhadap fatamorgana itu. Mainkan saja peranmu!

Mainkan saja peranmu! Boleh jadi rezekimu dialihkan kepada anak-anakmu, cucu-cucumu. Wibawamu tak boleh sirna oleh janji-janji palsu. Jangan pernah malu  dan henti memainkan peranmu. Percayalah, proses tidak pernah mengkhianati hasil.

Sampai jumpa di medan pengabdian. Para guru harus kuat. Engkau cakrawala, pusaran keberanian. Engkau bumi, pondasi kesabaran. Engkau adalah pelanjut risalah nabi. Nabi-nabi sudah mati. Jangan engkau “mati” walau ditikam berkali-kali.

Guru, mainkan saja peranmu! Apa peranmu?


keterangan foto:

Kunjungan tim kami di salah satu sekolah pada Kabupaten Buru. 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melasti dan kem (Bali) ke Kuta

Bersama rinduku walau kita jauh, kasih Suatu saat di Kuta Bali (Andre Hehanusa) Penggalan lagu mantan band Katara Singers tersebut sangat memukau. Semukau pesona yang ada di pantai Kutanya. Namun ada sesuatu yang membuat indah Bali selain pantainya, yaitu budaya dan adat istiadatnya. Masyarakat Bali sangat melekatkan budayanya dalam kehidupan sehari-hari.  Sejak turun dari pesawat, nuansa keBalian telah menyambut kita. Para porter bandara menyapa ramah dengan balutan pakaian safari berwarna merah dengan udeng kepalanya. Hal yang paling sakral yang saya dengar juga bahwa di Bali, tinggi gedung tidak boleh melebihi tingginya Pura. Bukan masalah mitos, bahkan jembatan penghubung Jawa-Bali tidak bisa disetujui lantaran karena hal tersebut. Khazanah yang sama, saya temukan di Kuta juga yaitu Melasti. Upacara pensucian diri ini sangat menarik simpati pengunjung termasuk saya. Itulah daya pikat Bali selain gadis-gadisnya yang anggun layaknya gadis solo.  Prose...

Aksi Nyata Para Pelindung Bumi

AI Kegiatan itu digagas oleh Kelompok Studi Ekosistem Mangrove Teluk Awur (KeSEMaT), sebuah Unit Kegiatan Kemahasiswaan Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip Semarang. "Ini sarana untuk menumbuhkan semangat konservasi terhadap ekosistem mangrove kepada generasi muda," jelas Trialaksita Sari Priska, Menteri Sekretaris KeSEMaT. Aktivitas kepedulian terhadap lingkungan tersebut bermula dari keresahan mahasiswa Ilmu Kelautan Undip terhadap kerusakan ekosistem mangrove di Teluk Awur, Jepara yang menjadi tempat praktik dan penelitian mata kuliah mereka. Mereka tidak ingin hanya meresahkan sesuatu. Mereka ingin melakukan tindakan nyata. Menurut Dinuarca Endra Wasistha, Presiden KeSEMaT, aksi mereka selanjutnya berkembang dari hanya menanam mangrove hingga membuat kreasi yang menghasilkan uang melalui CV KeMANGI. Tidak hanya itu, mereka juga mendirikan Yayasan Ikatan Alumni KeSEMaT (IKAMaT) dan menggalang KeSEMaT Mangrove Volunteer (KeMANGTEER) yang terseba...

Muncul Awan seperti Gelombang Tsunami Aceh, Ini Penjelasan BMKG

Gemini Ai Warganet ramai memperbincangkan video viral tentang awan berbentuk tsunami di atas Kota Meulaboh, Provinsi Aceh, Senin (10/8/2020). Akun Twitter @masawep atau Arief Arbianto yang menggunggah video tersebut menulis, “Mohon doanya agar Kota Meulaboh baik2 saja. Pemandangan awan pagi ini di atas kota Meulaboh, Aceh Barat.» Melihat fenomena alam yang viral ini, sebagian masyarakat bertanya-tanya apakah awan ini pertanda datangnya bencana alam. Menanggapi viralnya video fenomena awan tersebut, Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini BMKG, Miming Saepudin, pun angkat bicara. Miming menuturkan bahwa memang benar fenomena awan berbentuk seperti tsunami di video tersebut merupakan fenomena yang relatif jarang terjadi. “Secara ilmiah, fenomena awan tersebut dinamakan dengan awan arcus,” kata Miming kepada Kompas.com, Senin (10/8/2020). Untuk diketahui, awan arcus adalah jenis awan rendah dan memiliki formasi pembentukan horizontal. Dijelaskan Miming, awa...