Maluku tak sekedar gugusan pulau,
yang dipisahkan oleh laut Banda dan laut Seram. Tetapi sebuah ruang batin
kolektif di mana identitas kemanusiaan diletakkan jauh di atas segala perbedaan
primordial. Sejak zaman nenek moyang, kepulauan ini telah menjadi titik temu
ragam orang di dunia lewat jalur rempah. 
gemini
Namun, di balik kemasyhurannya di
telinga kolonialisme global dulu, terdapat harta karun sosiologis yang jauh
lebih berharga dan tetap lestari hingga hari ini, yaitu budaya Basudara.
Filosofi ini merupakan urat nadi yang mengikat ribuan komunitas di Maluku dalam
satu simpul persaudaraan.
Hal ini melampaui batas agama, suku,
dan strata sosial. Hidup orang Basudara tidak sekadar slogan puitis, tapi
sebuah kontrak sosial tak tertulis yang dijaga dengan sakral sebagai landasan
moral dan etika dalam berinteraksi antarsesama manusianya. Akar filosofinya tertanam kuat dalam
kesadaran bahwa seluruh masyarakat Maluku berasal dari satu rahim sejarah sama,
kemudian melahirkan nilai-nilai fundamental seperti potong di kuku rasa di
daging.
Metafora itu menggambarkan sebuah
empati mutlak di mana kuku sebagai bagian luar yang keras jika dipotong terlalu
dalam akan menyakiti daging di bawahnya.
Mengandung pesan kuat bahwa penderitaan satu kelompok atau individu
adalah penderitaan seluruh masyarakat Maluku tanpa pengecualian. Filosofi ini
diperkuat oleh prinsip ale rasa beta rasa, yang secara harfiah berarti
"apa yang kau rasakan, aku pun merasakannya."
Nilai ini menciptakan solidaritas
organik, yang memastikan bahwa dalam suka maupun duka, masyarakat tidak
berjalan sendiri-sendiri. Kebersamaan
ini mencapai puncaknya dalam pepatah sagu salempeng patah dua, yang
melambangkan keadilan sosial dan semangat berbagi dalam kekurangan, kepentingan
komunal selalu mendapatkan tempat yang lebih tinggi dibandingkan ambisi
individual.
Dinamika sosial di Maluku pernah
mengalami ujian berat 27 tahun silam, namun proses pemulihannya justru menjadi
bukti kekuatan kultur Basudara. Alih-alih hanya bergantung pada pendekatan
keamanan negara atau bantuan materi dari luar, masyarakat Maluku justru kembali
menoleh pada kearifan lokalnya. Revitalisasi nilai-nilai adat menjadi
katalisator perdamaian yang paling efektif.
Transformasi pasca-konflik ini mengubah luka menjadi modal sosial kuat.
Di ruang publik sapaan
"Kaka", "Ade", "Bapa", dan "Mama" jadi
tutur kata, yang mempunyai makna pengakuan mendalam akan eksistensi orang lain
sebagai bagian dari diri sendiri. Maluku kini berdiri sebagai laboratorium
perdamaian dunia, memberikan pelajaran berharga bahwa pluralisme bukan tentang
menghapus perbedaan, melainkan merayakannya dalam bingkai persaudaraan yang
tulus. “Siapa pun yang ingin belajar tentang perdamaian, datanglah ke Ambon,”tegas Nasaruddin Umar, Menteri Agama
dalam https://arikamedia.id/, (17/2).
Namun, di tengah kokohnya tembok
tradisi, era digital membawa disrupsi yang menjadi tantangan baru bagi
ketahanan budaya. Ruang siber tanpa batas sering kali menjadi medan tempur
informasi. Hoaks, ujaran kebencian, dan narasi polarisasi dapat menyebar lebih
cepat daripada pesan-pesan perdamaian adat.
Ketika interaksi budaya tergerus oleh interaksi layar yang dingin dan
anonim, risiko keretakan sosial akibat provokasi digital menjadi nyata
Algoritma media sosial cenderung
menciptakan gema kelompok. Tentu bila tidak disikapi dengan bijak, dapat
mengaburkan nilai dan menggantikannya dengan sentimen eksklusivitas
kelompok. Generasi muda provinsi ini kini
dihadapkan pada tugas berat untuk melakukan digitalisasi kearifan lokal.
Mereka dituntut tidak menjadi
konsumen konten, melainkan jadi agen "Basudara Digital" yang mampu
memfilter narasi perpecahan dengan nilai-nilai persaudaraan warisan leluhur. Jika dahulu “basudara” diikat dengan sirih pinang dan
upacara sakral, kini komitmen persaudaraan harus diwujudkan melalui literasi
digital beradab.
Komentar
Posting Komentar